SPESIAL MAULID NABI - CINTA PADA NABI ARTINYA CINTA PADA SYARIAH

سْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT DATANG DI SH GROSIR - SupplierHanduk.com!


97% PELANGGAN PUAS
DENGAN KUALITAS PRODUK DAN LAYANAN KAMI

pusat handuk terbesar, lengkap & murah, aneka souvenir unik bermanfaat, & distributor grosir aneka produk tekstil lainnya

lihat berbagai TESTIMONI

JANGAN LEWATKAN!
Ada VOUCHER 100K
di bagian bawah website ini.

Khusus bagi Anda yang teliti saja 😉


Cinta adalah berkah dan rohmat. Berkah karena dengan cinta manusia mempunyai rasa saling menyayangi, saling peduli, dan saling berempati. Rohmat karena cinta ialah naluri yang Allah karuniakan pada setiap manusia. Ketika cinta digunakan untuk ketaatan, maka akan mewujudkan kemaslahatan dan keselamatan. Namun, ketika cinta digunakan untuk hal-hal berupa kemaksiatan, maka hanya akan mendatangkan mudharat dan laknat ALLAH. Seperti itulah rasa cinta. Bisa berbuah pahala, namun juga berpotensi menambah dosa.

Cinta yang sebenarnya ialah berdasar pada ALLAH dan RasulNya. karena, kecintaaan kepada ALLAH dan RasulNya lah yang akan mengantarkan manusia pada jalan yang benar. Saat seorang hamba mengedepankan cintanya kepada ALLAH dan RasulNya, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju Surga. karena, kecintaaannya kepada ALLAH dan RasulNya mampu mencegah ia berbuat mungkar. Tentu ini bukan sembarang cinta yang hanya terucap dari lisan, tapi nihil dalam perbuatan.

Cinta itu artinya mau dan mampu  mencintai tanpa lelah dan letih. Cinta membutuhkan komitmen ketaatan. Cinta kepada ALLAH dan RasulNya wajib diutamakan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala yang berbunyi: 

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imron: 31).

Ayat diatas sangat jelas tersirat bahwa cinta kepada ALLAH  harus menjadi derajat cinta yang paling agung di hati kaum mukminin. Ayat diatas juga mengandung makna bahwasanya kita diwajibkan mengikuti Rosullullah Muhammad Shallahu alaihi wa Sallam dengan cara mengikuti seluruh syariat yang dibawanya. Mulai dari lisannya, perbuatannya, bahkan diamnya Nabi wajib diteladani. Ayat ini juga menjelaskan bahwa ALLAH  akan mencintai kita manakala kita meneladani Rosulullah Muhammad Shallahu alaihi wa Sallam.

Diantara bentuk cinta adalah memaknai Maulid Nabi Muhammad Shallahu alahi wa Sallam dengan cara yang benar. Bukan hanya sekadar bersalawat atau menyebut namanya didalam doa, tapi juga mengikuti seluruh petunjuk risalah yang beliau bawa. karena Rosulullah Muhammad adalah suri tauladan yang wajib kita teladani dan kita ikuti.

Rasulullah mencontohkan dan mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kesungguhan beribadah kepada Allah. Meski beliau kekasih Allah, tak serta merta membuatnya loyo dalam beribadah. Bahkan kaki beliau sampai bengkak saat shalat karena banyaknya taubat dan istighfar yang beliau lakukan.

Rasulullah mengajarkan leadership yang luhur dengan cara mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar dalam satu ikatan akidah Islam yang kuat. Rasulullah mensiratkan pesan hijrahnya bahwa Islam akan tegak berdiri bersama orang-orang yang ikhlas dan rela berkorban. Rasulullah selalu berikhtiar dalam memenangkan agama Allah. Diantaranya beliau sering terlibat dalam peperangan dengan orang-orang kafir.

Rasulullah tidak cumaa memberikan teladan sebagai individu, berkeluarga, dan bersosial semata. Namun, beliau juga mengajarkan berpolitik dan bernegara yang sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Rasulullah memberikan keteladanan tentang keberagaman tanpa keluar dari syariat Islam. Hal itu tersirat dari isi piagam Madinah. Menyatukan tanpa mencampuradukkan Islam dengan selainnya.

Sebagai seorang kepala negara, Rasulullah menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Hal itu tertuang nyata di dalam Shahîfah atau Watsîqah al-Madînah (Piagam Madinah): 

“Bilamana kalian berselisih dalam suatu perkara, tempat kembali (keputusan)-nya adalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kepada Muhammad saw…Apapun yang terjadi di antara pihak-pihak yang menyepakati piagam ini, berupa suatu kasus atau persengketaan yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, tempat kembali (keputusan)-nya adalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada Muhammad Rasulullah saw.” (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, I/503-504).

Peringatan Maulid Nabi saw memang seharusnya dimaknai secara mendalam. Agar peringatan Maulid nabi tidak sekadar seremonial tahunan yang tak  bermakna. Mencintai Nabi artinya mencintai seluruh syariat yang dibawanya. Tidak pilah pilih sekehendak hati.
Mari renungkan sabda Nabi saw berikut ini: 

“…Sungguh siapapun dari kalian yang berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu kalian wajib berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada sunnah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham….” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).
Maka marilah kita memaknai maulid Nabi ini dengan cara berkomitmen untuk terus istiqomah dalam ketaatan terhadap Syariah sebagaimana di ajarkan oleh Nabi kita Rosulullah Muhammad Shollalluhu 'alaihi wasallam. 

wallahu a'lam



KOLOM ARTIKEL BERMANFAAT

Artikel-artikel yang lain »